instagram

Ciri kebudayaan Mesolitikum

Kebudayaan Mesolitikum merupakan kelanjutan dari kebudayaan Paleolitikum. Ciri kebudayaan Mesolitikum tidak jauh berbeda dengan kebudayaan Paleolitikum. Pada masa mesolitikum, manusia udah ada yang menetap sehingga kebudayaan Mesolitikum sangat menonjol. Ciri mesolitikum adalah adanya kebudayaan kjokkenmoddinger dan abris sous roche.

a. Kjokkenmoddingeer

Kjokkenmoddinger banyak ditemukan didaerah pantai Sumatra sebelah timur sampai ke wilayah Aceh. Hasilnya berupa bukit-bukit kerang, terbentuk dari sisa-sisa atau sampah dapur manusia purba yang umumnya berupa kulit kerang atau kulit siput. Tumpukan sampah tersebut tingginya bisa mencapai 4-7 meter.

Sisa-sisa kulit kerang yang menumpuk menunjukan telah ada penduduk pantai yang mendiami rumah-rumah bertonggakl. Mereka memanfaatkan kerang dan siput sebagai makanan pokok. Selain bukit-bukit kerang juga ditemukan jenis kapak genggam yang berbeda dengan kapak genggam dari zaman Paleoltikuk.

Kapak genggam Mesolitikum disebut pebble culture atau kapak Sumatra. Alat tersebut terbuat dari batu kali yang dipecah atau dibelah. Peralatan yang ditemukan hasilnya sudah lebih bagus daripada peralatan dari zaman Paleolitikum.

Selain pabble culture ditemukan juga jenis hache courte atau kapak pendek. Ditemukan juga lapisan dan penggilingnya yang dimungkinkan untuk menggiling makanan dan menghaluskan cat merah. Hal ini dimungkinkan berhubungan dengan kebudayaan spritual. Pendukung dari kebudayaan mesolitikum ini diperkirakan termasuk dalam kelompok ras papua Melanesia.

Tokoh yang mengadakan penyelidikan terhadap kjokkenmmoddinger adalah Dr. P.V. van Stein Callenfels. Kemudian dikenal sebagai “ bapak Prasejarah Indonesia”.

b. Abris sous rouche

Abris sous rouche merupakan gua-gua dipedalaman. Gua-gua ini dimungkinakn sebagai tempat tinggal manusia. Pada waktu itu manusia belum mengenal tempat tinggal tetap. Gua-gua tersebut lebih menyerupai ceruk-ceruk di dalam batu karang yang memberi perlindungan terhadap hujan dan panas.

Di dalam gua-gua juga ditemukan alat-alat hasil kebudayaan manusia purba. Penyelidikan terhadap abris sous rouche pertama kali dilakukan oleh van stein Callenfels. Penyelidikannya dilakukan di Gua Lawa dekat Sampung, Ponorogo antara tahun 1928-1931.

Dari penyelidikan terhadap abris sous rouchei van Stein Callenfels juga menemukan jenis-jenis peralatan yang dari tulang. Peralatan terseut kemudian dikenal dengan istilah Sampung Bore Culture. Penelitian terhadap abris sous rouche juga dilakukan oleh Dr. Hendrik Robbert van Heekeren pada tahun1937. Heekeren mangadakan penyelidikan abris sous rouche di wilayah Besuki dan Bojonegoro serta kebudayaan Toala di Sulawesi Selatan.

Hasil kebudayaan Toala yang utama adalah flakes dan alat-alat dari tulang. Bentuknya antara lain ujung mata panah yang bergerigi. Dapat disimpulkan bahwa pendukung kebudayaan mesolitikum adalah bangsa Papua Melanesoid.

Selain berupa peralatan-peralatan, juga ditemukan hasil kebudayaan lain berupa karya seni. Heekeren mengatakan bahwa gambar tersebut dimungkinkan telah berumur lebih dari 4000 tahun, atau pada zaman peralihan dari Mesolitikum ke Neolitikum. Bentuk kesenian Mesolitikum yang ditemukan antara lain :

1) Lukisan pada kapak berupa garis sejajar dan lukisan mata. Namun makna lukisan tersebut belum diketahui secara pasti.

2) Lukisan di dinding-dinding gua, seperti yang terdapat di Gua Leang-Leang Sulawesi Selatan. Lukisan tersebut berupa gambar babi hutan sedang lari. Selain itu, juga lukisan cap tangan berwarna merah.

0 Comments

Leave Your Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*

loading...