instagram

Penyebab perang Aceh (1874-1904)

Perang aceh terjadi selama tiga puluh tahun. Perang ini terjadi kerena beberapa sebab, baik sebab umum maupun sebab khusus. Sebab-sebab umumnya antara lain belanda ingin menguasai Aceh, adanya traktat sumatra (inggris dan belanda) memberi peluang belanda untuk menyerang Aceh dengan Turki, Italia, dan Amerika Serikat.

Sebab khususnya yaitu belanda menuntut aceh tunduk pada Belanda tetapi ditentang oleh Sultan Mahmud Syah.

Sultan Aceh menolak semua pemerintahan yang diajukan Belanda. Akibat penolakan itu pada tanggal 26 maret 1873, belanda mengumumkan perang terhadap aceh. Pernyataan perang itu disusul dengan datangnya kapal-kapal perang belanda dengan kekuatan 3.000 personel. Pasukan belanda dipimpin oleh Mayor Jendral Kohler. Sasaran pertama mereka adalah Masjid Raya Baiturrahman Ibu Kota Aceh.

Pasukan aceh menyambut belanda dengan serangan tanpa mengenal lelah. Pada pertempuran tanggal 14 april 1873. Mayor Jendral Kohler tewas. Selanjutnya digantikan Mayor Jendral van Swieten. Pasukan belanda menyerang dengan meriam dan tembakan yang juga dibalas dengan tembakan senapan masyarakat Aceh. Pertempuran berlangsung kurang lebih selama dua minggu. Akhirnya kekuatan aceh terdesak dan istana dapat diduduki pasukan belanda. Sultan dan keluarga berhasil menyalamatkan diri ke Leungbata.

Belanda mengira perang telah berkahir dengan telah berhasil menduduki istana. Namun ternyata diluar sana para ulama dan bangsawan tetap siap bertempur, mereka bersama-bersama terus berjuang menggembleng pasukan jidah yang dipimpin oleh Tengku Cik Ditiro. Rakayat aceh juga bangikit dengan di pimpin oleh Teuku Umar bersama istrinya Cut Nyak Dien. Teuku Umar memimpin serang ke pos-pos Belanda dan berhasil menguasai Meulaboh pada tahun 1882. Tanggal 14 juni 1886, Teuku Umar menyerang kapal Hok Canton yang berlabuh di Rigarh. Belanda makin kewalahan mengahadapi perjuangan rakyat aceh. Berbagai cara dan strategi berusaha dilakukan salah satu diantaranya adalah dengan konsentrasi stelsel. Belanda juga menerapkan sistem adu domba. Kedua siasat tersebut mengalami kegagalan. Akhirnya belanda mengirim Dr. Snouck Hurgronje untuk menyilidiki kehidupan dan struktur masyarakat aceh. Tokoh ini berhasil menyamar dengan nam Abdul Gofar dan berhasil menyelidiki kelemahan masyarakat aceh, yang dituangkan dalam sebuah buku berjudul De Aljehers.

Snouck Hurgronje menganjurkan menggunakan kekerasan dan pengelompokan lapisan masyarakat dalam menyerang masyarakat aceh. Namun Jendral Deyckerhoff mengindahkan usulan ini. Dia menggunaka politik divide et impera untuk mempengaruhi Teuku Umar. Keadaan ini dimanfaatkan oleh Teuku umar dengan pura-pura menyerah kepada belanda dengan maksud untuk mendapatkan perlengkapan senjata.

Jendral Deyckerhoff sangat percaya kepada Teuku Umar, kemudian beliau diberi kepercayaan menyerang Benteng Aceh dengan dibekali pasukan dan senjata lengkap. Dalam setiap penyerangan Teuku Umar selalu memerintahkan untuk mengosongkan Benteng, sehingga tidak menimbulkan korban. Setelah mendapat cukup senjata, Teuku Umar kembali melawan belanda. Belanda makin menyadari bahwa untuk menghadapi Aceh tidak bisa dijalankan politik adu domba. Deyckerhoff dinilai gagal kemudian dipecat dan di ganti van Heutz pada tahun 1899 van Heutz memimpin peperangan dengan kekerasan. Mereka menyerang rakyat membabi buta. Pasukan Teuku Umar tidak mampu menahan serangan ini, kemudian mundur ke Meulaboh. Dalam pertempuran ini Teuku Umar gugur, tepat pada tanggal 11 Februari 1899.

Panglima Polim dan Sultan Muhammad Daud Syah masih melakukan pertempuran di Aceh Timur secara berpindah-pindah mulai dari Kutasawang, Peusangan, Gendong dan Keureuteu. Belanda terus berusaha mengalahkannya. Oleh karena itu pada saat pasukan Aceh bertahan di benteng Batle Lile, van Heutz melakukan serangan besar-besaran, tepatnya bulan januari 1901. Pasukan Sultan Muhammad Daud Syah dan Panglima Polim terdesak dan belanda dapat menduduki benteng.

Sekitar tahun 1903, pasukan belanda berhasil menawan kerabat Kesultanan sehingga Sultan Muhammad Daud Syah menyerah kepada Belanda.

Beberapa kemudian panglima polim juga menyerah. Cut Nyak Dien dan Cut Nyak Mutia masih melakukan penyerangan. Cut Nyak Dien akhirnya tertangkap dan dibuang ke Sumedang sampai wafat tanggal 6 november 1908. Sedangkan Cut Mutia gugur dalam pertempuran di hutan Pasai tanggal 24 Oktober 1913. Sultan Muhammad Daud Syah akhirnya menandatangi Plakat Peudele (Koret Varklaring) yang isinya Aceh mengaku tunduk kepada pemerintah Hindia Belanda.

0 Comments

Leave Your Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*

loading...