instagram

Teori Asam dan Basa menurut Arrhenius

Asam dan basa dapat diklasifikasikan sebagai organik atau anorganik. Beberapa asam organik yang paling umum adalah: asam sitrat, asam karbonat, hidrogen sianida, asam salisilat, asam laktat, dan asam tartaric. Beberapa contoh basa organik adalah: piridin dan etilamin. Beberapa contoh asam anorganik umum adalah: hidrogen sulfida, asam fosfat, hidrogen klorida, dan asam sulfat.

Beberapa basa anorganik umum adalah: natrium hidroksida, natrium karbonat, natrium bikarbonat, kalsium hidroksida, dan kalsium karbonat.

Asam, seperti asam klorida, dan basa, seperti kalium hidroksida, yang memiliki kecenderungan yang besar untuk terionisasi dalam larutan; mereka disebut asam kuat atau basa kuat. Asam, seperti asam asetat, dan basa, seperti amonia, yang enggan berdisosiasi dalam air hanya sebagian terionisasi dalam larutan; mereka disebut asam lemah atau basa lemah.

Asam kuat dalam larutan menghasilkan konsentrasi tinggi ion hidrogen, dan basa kuat dalam larutan menghasilkan konsentrasi tinggi ion hidroksida dan konsentrasi Sejalan rendah ion hidrogen. Konsentrasi ion hidrogen sering dinyatakan dalam logaritma negatif, atau pH. Asam kuat dan basa kuat membentuk larutan elektrolit sangat baik, yaitu, larutan mereka siap menghantarkan listrik. Asam lemah dan basa lemah membentuk larutan elektrolit yang buruk.

Ada tiga teori yang mengidentifikasi karakteristik tunggal yang mendefinisikan apa itu asam dan basa: teori Arrhenius, seorang ahli kimia Swedia Svante Arrhenius dianugerahi Hadiah Nobel 1903 di bidang kimia; Bronsted-Lowry, atau teori donor proton, pada tahun 1923; dan Lewis, atau teori pasangan elektron, yang juga disajikan pada tahun 1923. Masing-masing dari tiga teori memiliki kelebihan dan kekurangan sendiri; masing-masing berguna dalam kondisi tertentu.

Pada tahun 1900, Arrhenius mengemukakan, bahwa “Asam adalah suatu spesi yang akan meningkatkan konsentrasi H+ di dalam air dan basa adalah suatu spesi yang akan meningkatkan ion OH di dalam air”. Atau dengan pernyataan lain, asam adalah suatu spesi yang apabila di larutkan dalam air akan menghasilkan ion H+ dan basa adalah suatu spesi yang di larutkan dalam air akan menghasilkan ion OH.

Contoh asam menurut teori Arrhenius adalah HCL. Bila HCL di larutkan kedalam air akan menghasilkan ion H+ dan ion CL sesuai dengan reaksi berikut.

HCL(aq) + H2O(l) → H+(aq) + CL(aq)

Ion H+(aq) tidak berupa proton bebas, tetapi terikat secara kimia pada molekul air membentuk H3O+(aq). Spesi ini di namakan ion hidronium yang terionisasi langsung melalui ikatan hidrogen dengan sejumlah molekul air. Asam Arrhenius yang lain adalah HF, HB, HNO3, H2SO4, CH3COOH,    H­2C2O4, dan H3PO4.

Basa menurut teori Arrhenius adalah NaOH. Bila NaOH dilarutkan kedalam air akan menghasilkan ion Na+ dan ion OH sesuai dengan reaksi berikut.

NaOH(s) + H2O(ℓ) → Na+(aq) + OH(aq)

Basa arrhenus yang lain adalah KOH, Mg (OH)2, NH4OH, Ca(OH)2 dan Ba(OH)2.

Kekurangan teori asam basa Arrhenius adalah hanya terbatas pada spesies yang memiliki ion H+ atau OH dan spesies tersebut ada dalam pelarut air. Artinya, apabila spesies tersebut tidak memiliki ion H+ atau OH dan reaksinya dijalankan dengan pelarut non air, maka teori ini tidak berlaku. Sebagai contoh, gas amoniak (NH3) dapat bereaksi dengan gas HCL membentuk amonium klorida padat dengan reaksi sebagai berikut :

NH3(g) + HCl(g) + NH4 Cl(s)

Reaksi di atas adalah salah satu contoh reaksi asam basa yang tidak bisa di jelaskan dengan teori Arrhenius. Sebab reaksi tersebut tidak melibatkan adanya ion H+ dan OH apabila reaksi diatas dilakukan dalam medium air maka yang terlibat adalah larutan NH4OH dan larutan HCl dengan reaksi berikut.

NH4OH(aq) + HCl(aq) → NH4Cl(aq) + H2O(1)

NH3(aq) + HCl(aq) → NH4Cl(aq)

Pada kasus natrium hidroksida, ion hidrogen dari asam bereaksi dengan ion hidroksida dari natrium hidroksida sejalan dengan teori Arrhenius akan tetapi, pada kasus amonia tidak muncul ion hidroksida sedikitpun.

Hal ini dapat di pahami dengan mengatakan bahwa amonia bereaksi dengan air yang melarutkan amonia tersebut untuk menghasilkan ion amonium dan ion hidroksida.

NH4OH(aq) + H2O(1) → NH4 +(aq) + OH(aq)

Reaksi ini merupakan reaksi refersibel, dan pada larutan amonia encer yang khas, sekitar 99% sisa amonia ada dalam bentuk molekul amonia. meskipun demikian, pada reaksi tersebut terdapat ion hidroksida, dan kita dapat menyelipkan ion hidroksida ini kedalam teori Arrhenius.

Reaksi yang sama juga terjadi antara gas amonia dan gas hidrogen klorida.

NH3(g) + HCl(g) → NH4Cl(s)

Pada kasus ini tidak terdapat ion hidrogen atau ion hidroksida dalam larutan karena bukan merupakan suatu larutan. Teori Arrhenius tidak menghitung reaksi ini sebagai reaksi asam basa, meskipun pada paktanya reaksi tersebut menghasilkan produk yang sama seperti ketika 2 zat tersebut bereaksi dalam larutan.

Berdasarkan jumlah ion hidrogen yang dihasilkan, asam Arrhenius di bagi menjadi 2, yaitu asam monoprotik dan asam poliprotik.

Asam Monoprotik

Asam monoprotik yaitu asam yang dalmlarutan air akan menghasilkan satu ion hidrogen (H+).

Contoh :

HCl(aq) → H+(aq) + Cl(aq)

CH3COOH(aq) → H+(aq) + CH3COO(aq)

Asam Poliproptik

Asam poliproptik yaitu asam yang dalam larutan air akan menghasilkan lebih dari 1 ion hidrogen (H+).

Contoh :

H2SO4(aq) → H+(aq) + HSO4(aq)

HSO4(aq) → H+(aq) + SO42-(aq)

Namun dalam keadaan yang sebenarnya, ion hidrogen tidak dapat berdiri sendiri. Ion hidrogen berikatan dengan molekul air (H2O) menjadi ion hidronium (H3O+)

H+(aq) + H2O(1) → H3O+(aq)

Larutan basa menurut Arrhenius juga dibagi menjadi 2, yaitu basa monoasidik dan basa poliasidik yang menunjukan sifat keasaman atau hidroksitas suatu basa.

Basa monoasidik

Basa monoasidik yaitu basa yang dalam larutan air menghasilkan suatu ion hidroksida (OH)

Contoh :

NaOH → Na+(aq) + OH(aq)

NH4OH(aq) → NH4+ (aq) + OH(aq)

Basa poliasidik

Basa poliasidik yaitu basa yang dalam larutan air akan menghasilkan lebih dari satu ion hidroksida (OH).

Contoh :

Ca (OH)2(aq) → Ca2+(aq) + 2OH(aq)

Berdasarkan sifat ion-ion diatas, maka reaksi ion H+ dan OH dapat membentuk H2O yang biasa disebut dengan reaksi netralisasi.

0 Comments

Leave Your Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*