instagram

Trilogi Politik Etis Van Deventer

Isi Politik Etis, sebagaimana yang dikemukakan Van Deventer merupakan Trilogi, yaitu irigasi (pengairan), emigrasi/transmtgrasi (perpindahan penduduk dari satu pulau ke pulau lain), dan edukasi (pendidikan). Politik balas budi yang dicerminkan dalam trilogi Politik Etis itu, menurut Van Deventer dengan pertimbangan sebagai berikut.

a. Rakyat Indonesia hidup bertani, pemerintah Belanda harus membangun sarana irigasi,
b.Rakyat Indonesia masih terbelakang, maka pemerintah harus menyebarluaskan penyelenggaraan pendidikan

c. Sehubungan dengan diberlakukannya undang-undang Agraria tahun 1870, rakyat Indonesia tidak leluasa lagi memperluas lahan pertaniannya di Jawa, karena itu pemerintah harus menyelenggarakan program transmigrasi dari Jawa ke luar Jawa.

Sejak itu pemerintah Belanda memprogramkan penyebarluasan pendidikan, membangun sarana irigasi, dan tahun 1905 sejumlah orang Jawa dipindahkan ke luar Jawa, antara lain ke Lampung dan Deli. Sumatera Timur. Di sarnping itu, pemerintah juga menyelenggarakan badan perkreditan rakyat, rumah gadai, dan menggalakkan lumbung desa. Pemerintah juga menyelenggarakan angkutan kereta api murah (Staat Spoor) dan swasta memiliki Nederlandsch Indische Spoor Mij yang tarifnya lebih mahal.

Van Heutsz dan Snouck Hurgronye juga berusaha menerapkan konsep Pax Neerlandica. Orang Indonesia dididik supaya berperilaku Belanda, misalnya cara berpakaian, berbicara, berpikir, dan bahkan bernama Belanda pula. Sebenarnya gagasan Politik Etis yang dicetuskan oleh Van Deventer sangat ideal. Apalagi dengan adanya prinsip mewujudkan kesejahteraan di Indonesia. Namun, pada praktek di lapangan, penyelenggaraan trilogi politik etis diselewengkan oleh pemerintah Belanda seiring dengan kepentingan kolonial Belanda di Indonesia. Penyelewengan itu sebagai berikut.

a. Pendidikan yang dilaksanakan hanyalah pendidikan tingkat rendah, tujuannya adalah untuk memenuhi kebutuhan akan pegawai rendahan, mandor-mandor atau pelayan-pelayan yang bisa membaca. Memang kemudian dibuka sekolah-sekolah menengah, tetapi kebanyakan orang pribumi tidak mampu menikmatinya karena biayanya mahal,

b. Irigasi hanya dibangun di daerah-daerah yang terdapat perkebunan milik Belanda, dan

c. Transmigrasi ke luar Jawa, khususnya di Sumatera, hanya dimaksudkan untuk mempermudah pengusaha-pengusaha Barat di luar Jawa memperoleh tenaga kerja.

Dengan demikian politik etis yang dilancarkan Van Deventer gagal dalam praktik di lapangan karena pemerintah Belanda tidak memiliki itikad baik untuk menyejahterakan pribumi.

Related Posts
0 Comments

Leave Your Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*

loading...