Kondisi sosial-politik kerajaan sriwijaya

Melalui tulisan pada prasasti Ligor (775 M). disebutkan raja Sriwijaya, Dharmasetu mendirikan pelabuhan di Semenanjung Melayu di dekat Ligor, ia juga membangun sebuah bangunan suci agama Budhha.

Masyarakat Sriwijaya sebagian besar hidup dari perdagangan dan pelayaran. Letaknya strategis, dijalur perdagangan antara India dan Cina. Hal ini menjadi salah satu faktor Sriwijaya berkembang manjadi kerajaan maritim yang penting di Sumatra, dan bahkan menjadi pengendali jalur perdagangan antara India dan Tiongkok.

Hasil bumi yang diperdagangkan antara lain kemenyan, lada, damar, penyu, dan barang-barang lain seperti emas, perak, dan gading gajah. Orang Arab bahkan menyebut aneka komoditi lain seperti kapur barus, kayu gaharu, cengkeh, pala, kapulaga, gading, emas, dan timah. Sementara pedagang asing menukar barang-barang tersebut dengan keramik, kain katun, dan sutra.

Sriwijaya harus terus menjaga dominasi perdagangannya. Dalam rangka menjaga monopoli perdagangan Sriwijaya menggelar ekspedisi militer untuk menaklukan bandar pelabuhan pesaing dikawasan sekitarnya dan menyerap mereka kedalam mandala Sriwijaya. Ligor, Tanah Genting Kra, Kelantan, Pahang, Jambi, dan Sunda.

Misalnya, berhasil ditaklukan dan menjadi kerajaan –kerajaan awahan (Vassal) Sriwijaya. Dengan banyak kerajaan bawahan, Sriwijaya menikmati banyak upeti. Pada akhir abad ke-9 M, kerajaan Sriwijaya berhasil menguasai seluruh jalur perdagangan di Asia tenggara, seperti Selat Sunda, Selat Malaka, Selat Karimata, dan Tanah Genting Kra (Thailand). Rakyatnya hidup aman dan makmur.

Kerajaan ini mencapai zaman keemasan di bawah raja Balaputradewa. Yang berkuasa sekitar abad ke-9 (850-an M). raja ini menjalin hubungan dengan kerajaan–kerajaan di luar wilayah indonesia, terutama kerajaan-kerajaan di India (Nandala atau Benggala dan Cholamandala) dan kerajaan di Tiongkok (Cina).

Loading...

Ringkasnya, kemajuan yang pesat dari kerajaan sriwijaya didukung oleh adanya beberapa faktor:

  • Letaknya strategis: berada di jalur perdagangan antara India dan Cina.
  • Menguasai jalur-jalur perdaganga: Selat Malaka, Selat Sunda, Semenanjung Melayu, dan Tanah Genting Kra.
  • Hasil-hasil buminya seperti emas, perak, dan rempah-rempah menjadi komoditi perdagangan yang berharga.
  • Armada lautnya kuat, karena menjalin kerjasama dengan armada laut kerajaan-kerajaan di India dan Cina
  • Pendapatan melipah dari upeti raja-raja yang ditaklukan, cukai terhadap kapal-kapal asing dan barang dagangan serta hasil bumi sendiri.

Raja-raja sriwijaya selalu tampil sebagai pelindung dan penganut agama yang taat. Tidak mengherankan agama Buddha berkembang pesat. Sriwijaya bahkan tercatat sebagai pusat agama Buddha (Mahayana) yang penting di Asia Tenggara dan Asia Timur. Hal ini pernah ditulis seorang pendeta Cina, I Tsing yang sempat tinggal empat tahun di Sriwijaya untuk menerjemahkan kitab suci agama Buddha, I Tsing menyebutkan adanya seorang pendeta Buddha terkenal bernama Sakyakitri. Selain itu, menurut berita dari tibet seorang pendeta bernama Atica datang dan tinggal di Sriwijaya (1011-1023 M) dalam rangka belajar agama Buddha dari seorang guru bernama Dharmapala.

Sriwijaya mengalami kemunduran sekitar abad ke-12, yang antara lain disebabkan oleh:

  • Serangan kerajaan Medang Kemulan, Jawa Timur, dibawah raja Dharmawangsa, pada 990 M. saat itu Sriwijaya di perintah oleh raja Sudamaniwarwadewa. Meski tidak berhasil ,serangan itu cukup melemahkan Sriwijaya.
  • Serangan kerajaan Cholamandala dari India pada tahun 1023 M dan pada tahun 1030 M. tidak ada sumber tertulis tentang sebab-sebab terjadinya serangan tersebut, namun diperkirakan masalah politik dan persaingan perdagangan.
  • Negara-negara ang pernah ditaklukan seperti Ligor, Tanah Genting Kra, Kelantan, Pahang, Jambi, dan Sunda, satu persatu melepaskan diri dari kekuasaan Sriwijaya. Hal ini tentu saja berakibat pada kemunduran ekonomi dan perdagangan.
  • Terdesak oleh Kerajaan Thailand yang mengembangkan kekuasaan sampai Semenanjung Malaya.
  • Serangan Majapahit pada 1477 M, dan berhasil menaklukan Sriwijaya; sejak itu berakhirlah kekuasaan Sriwijaya.

sumber : Ratna hapsari | M Adil. Sejarah indonesia SMA/MA kelas X. ERLANGGA

Loading...

Artikel terkait lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *