Pengertian Akulturasi dalam sosiologi

Akulturasi adalah proses perubahan artefak, adat istiadat, dan keyakinan yang dihasilkan dari hubungan dua budaya atau lebih. Istilah ini juga digunakan untuk merujuk pada hasil perubahan tersebut. Dua jenis utama akulturasi yaitu inkorporasi (penggabungan) dan perubahan terarah, dapat dibedakan berdasarkan kondisi di mana terjadinya hubungan dan perubahan budaya terjadi.

Inkorporasi mengacu pada pilihan bebas dan modifikasi elemen budaya dan terjadi ketika masyarakat dari budaya yang berbeda mempertahankan hubungan serta penentuan nasib politik dan sosial sendiri. Ini mungkin melibatkan sinkretisme, suatu proses di mana manusia menciptakan sintesis baru dari fenomena yang berbeda dari budaya asli; adopsi, di mana fenomena yang sama sekali baru ditambahkan ke khasanah budaya; dan adaptasi, di mana bahan atau teknologi baru diterapkan pada fenomena yang masih ada.

Keyakinan agama sering dimasukkan dalam cara sinkretis, seperti dengan sintesis kepercayaan pribumi dan Katolik Roma di sebagian besar Meksiko. Teknologi sering dikategorikan masuk dalam adopsi, seperti pada difusi cepat teknik pengerjaan logam baru dan jenis senjata yang menandai transisi dari Zaman Batu ke Zaman Perunggu, dan kemudian ke Zaman Besi di Asia, Afrika, dan Eropa. Ornamen sering tunduk pada adaptasi, seperti ketika kelompok-kelompok penduduk asli Amerika menggantikan liontin batu yang berat dengan ornamen logam pada periode antara kontak Columbus dan penaklukan militer; ornamen seperti itu mudah terlihat dalam potret sejarah tokoh pribumi yang penting. Karena inkorporasi adalah produk pilihan bebas, perubahan yang timbul sering dipertahankan dalam jangka panjang.

Sebaliknya, perubahan terarah terjadi ketika satu kelompok menetapkan dominasi atas yang lain melalui penaklukan militer atau kontrol politik; dengan demikian, imperialisme adalah pendahulu yang paling umum untuk mengarahkan perubahan. Seperti inkorporasi, perubahan terarah melibatkan pemilihan dan modifikasi karakteristik budaya. Namun, proses-proses ini lebih bervariasi dan hasilnya lebih kompleks karena mereka berasal dari gangguan dalam satu sistem budaya oleh anggota lain. Proses-proses yang beroperasi di bawah kondisi perubahan terarah termasuk asimilasi paksa — penggantian total satu budaya oleh yang lain — dan perlawanan terhadap aspek budaya yang dominan. Karena perubahan yang diarahkan dikenakan pada anggota budaya penerima, seringkali cukup keras, perubahan yang dimunculkannya cenderung tidak akan dipertahankan dalam jangka panjang.

Akulturasi
Migrasi dan Integrasi Sosial

Menurut Koentjaraningrat, akulturasi akan timbul apabila suatu kelompok manusia dengan satu kebudayaan yang dihadapkan dengan unsur-unsur dari suatu kebudayaan asing yang berbeda sehingga unsur-unsur dari suatu kebudayaan asing tersebut lambat laun diterima dan di olah ke dalam  kebudayaan sendiri tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan itu sendiri.

Akulturasi timbul tidak terlepas dari adanya pembawa kebudayaan kebudayaan luar ke kebudayaan lain. Orang yang melakukan hal tersebut dinamakan agen akulturasi. Agen akulturasi antara lain pemuka agama, pedagang, atau tentara yang menjajah tempat lain.

Tidak semua unsur kebudayaan asing bisa mudah diterima oleh masyarakat, tapi ada juga unsur-unsur kebudayaan asing yang mudah diterima oleh masyarakat diantaranya:

• unsur-unsur yang konkret adalah unsur-unsur kebudayaan jasmani.
• unsur-unsur yang terbukti mempunyai kelompok yang menerima unsur-unsur tersebut.
• unsur-unser yang mudah disesuaikan dengan keadaan diri masyarakat yang menerima unsur-unsur tersebut.

Adapun unsur kebudayaan yang suka diganti oleh kebudayaan asing diantara lain:

• unsur yang fungsinya tersebar luas dalam masyarakat.
• unsur kebudayaan yang dipelajari pada tingkat-tingkat paling dahulu dalam proses sosialisasi dari individu-individu dalam masyarakat.
• unsur-unsur kebudayaan yang termasuk agama.

Proses akulturasi yang diterima oleh masyarakat ditentukan oleh lapisan-lapisan yang ada di masyarakat. Selain itu, akulturasi juga ditentukan oleh watak individu yaitu masyarakat yang berwatak kolot dan progresif. Contoh masyarakat kolot adalah masyarakat desa, sedangkan contoh masyarakat progresif adalah masyarakat kota. Dengan demikian kebudayaan asing secara tidak sadar akan di anggap sebagai kebudayaannya sendiri, misalnya masyarakat indonesia menerima dengan baik sistem pendidikan yang berasal dari Eropa yaitu penerapan jenjang pendidikan dasar sampai tingkat Universitas.

Loading...