Peninggalan Kerajaan Singasari

Pada  masa  pemerintahan Kertanegara, agama  Hindu maupun Buddha  berkembang dengan baik.  Bahkan  terjadi Sinkretisme antara agama Hindu dan Buddha, menjadi bentuk Syiwa-Buddha. Sebagai contoh, berkembangnya aliran Tantrayana. Kertanegara sendiri penganut aliran Tantrayana.

Usaha untuk memperluas wilayah dan mencari dukungan dan berbagai daerah terus dilakukan oleh Kertanegara. Banyak pasukan  Singhasari yang dikirim ke berbagai  daerah.  Antara lain  pasukan   yang  dikirim ke  tanah   Melayu.

Oleh  karena itu, keadaan ibu dua kota kerajaan  kekuatannya berkurang. Keadaan  ini diketahui  oleh  pihak-pihak  yang  tidak  senang terhadap kekuasaan Kertanegara. Pihak yang  tidak  senang itu  antara   lain Jayakatwang, penguasa  Kediri. Ia berusaha menjatuhkan kekuasaan Kertanegara.

Saat yang dinantikan  oleh Jayakatwang ternyata  telah tiba.   Istana   Kerajaan   Singhasari   dalam   keadaan  lemah. Pasukan kerajaan  hanya tersisa sebagian  kecil. Pada saat itu, Kertanegara sedang  melakukan  upacara  keagamaan dengan pesta  pora,  sehingga  Kertanegara benar-benar lengah.

Tiba- tiba,  Jayakatwang menyerbu  istana  Kertanegara. Serangan Jayakatwang dibagi menjadi dua arah. Sebagian kecil pasukan Kediri menyerang dari arah utara untuk memancing pasukan Singhasari  keluar  dari pusat  kerajaan.  Sementara itu induk pasukan  Kediri bergerak  dan  menyerang dari arah  selatan. Untuk menghadapi serangan Jayakatwang, Kertanegara mengirimkan  pasukan  yang  ada  di bawah  pimpinan Raden Wijaya dan Pangeran  Ardaraja.

Ardaraja adalah  anak Jayakatwang dan  menantu dari Kartanegara. Pasukan  Kediri yang datang dari arah  utara  dapat  dikalahkan  oleh pasukan Raden   Wijaya  Akan  tetapi,   pasukan   inti  dengan  leluasa masuk dan menyerang istana, sehingga berhasil menewaskan Kertanegara.

Peristiwa ini terjadi pada  tahun  1292  M. Raden Wijaya dan  pengikutnya   kemudian   meloloskan  diri setelah mengetahui istana kerajaan dihancurkan  oleh pasukan  Kediri. Sedangkan Ardaraja membalik dan bergabung dengan pasukan  Kediri.

arca-kertanegaraJenazah  Kertanegara kemudian dicandikan   di  dua  tempat, yaitu  di  Candi  Jawi di Pandaan dan di Candi Singosari, di daerah Singosari, Malang.

Sebagai  raja yang  besar,  nama Kertanegara diabadikan  di berbagai  tempat. Bahkan di Surabaya ada sebuah  arca Kertanegara yang menyerupai bentuk arca Buddha. Arca Kertanegara itu dinamakan arca Joko Dolok. Dengan termatikannya Kertanegara maka berakhirlah  Kerajaan Singhasari.

Candi_Kidal

Beberapa candi peninggalan dari kerajaan Singasari masih terlihat berdiri di kota Malang, walaupun beberapa dari candi tersebut terlihat usang bahkan hancur di makan usia. Sebagai contoh dari candi-candi tersebut adalah Candi Kidal. Dahulu Candi Kidal memiliki tinggi sekitar 17 meter namun sekarang hanya tinggal 12,5 meter.
Diatas pintu Candi Kidal terdapat kepala raksasa dan singa serta memiliki ornamen cuplikan kisah mahabharata.

Secara arsitektur Candi Kidal kental dengan budaya Jawa Timuran, dan telah mengalami pemugaran pada tahun 1990. Candi Kidal juga memuat cerita Garudeya, cerita mitologi Hindu, yang berisi pesan moral pembebasan dari perbudakan.

Sumber: Sejarah SMA/MA Kelas X Kemdikbud 2014