Menjelaskan Fenomena Pemanasan Global-



Pemanasan global mengacu pada pola kenaikan suhu baru-baru ini di atmosfer bumi dan lautan, yang sebagian disebabkan oleh aktivitas manusia. Bukti ilmiah untuk pemanasan global sangat banyak, tetapi debat politik terus berlanjut. Salah satu alasan perdebatan yang terus berlanjut adalah bahwa ilmu iklim adalah subjek yang kompleks. Iklim itu sendiri merupakan hasil interaksi antara puluhan faktor. Karena itu, Anda tidak bisa hanya mengamati perubahan pada satu elemen dan menghubungkannya dengan efek iklim tertentu — yang membuat penjelasan pemanasan global menjadi tantangan.

Keseimbangan

Bumi menerima 84 terawatt tenaga surya setiap saat — itu berarti 84 juta juta watt. Sebagian energi itu langsung dipantulkan dari atmosfer bumi dan permukaan bumi. Sebagian diserap — memanaskan udara, air, dan tanah. Udara, air, dan tanah yang lebih hangat memancarkan radiasi infra merah tak terlihat yang mengarah kembali ke luar angkasa. Tetapi sebagian dari radiasi infra merah itu tidak sampai ke luar angkasa — ia dipantulkan kembali ke permukaan. Terjebak.

Panci berisi air pemanas di atas kompor terasa hangat dan beruap. Panas yang Anda rasakan dan uap yang Anda lihat adalah cara panci menghilangkan energi, tetapi lebih banyak energi yang masuk daripada yang keluar — sehingga panci menjadi panas. Hal yang sama terjadi pada Bumi: Jika lebih banyak energi yang masuk daripada yang keluar, Bumi memanas.

Keseimbangan Radiasi

Jika Bumi tidak membuang 84 terawatts daya yang diterimanya setiap saat, Bumi akan memanas. Banyak faktor yang mempengaruhi keseimbangan radiasi bumi. Salju dan es, misalnya, memantulkan sinar matahari kembali ke angkasa. Jika salju dan es mencair dan digantikan dengan air berwarna biru tua atau tanah berwarna cokelat, Bumi akan menyerap lebih banyak energi.

Faktor lainnya adalah bahwa matahari memiliki variasi keluaran alami — artinya terkadang Bumi menerima sedikit lebih banyak atau sedikit kurang dari 84 terawatt. Gunung berapi mengeluarkan debu yang dapat membuat awan lebih reflektif dan membuat atmosfer menyerap lebih banyak energi, bergantung pada spesifikasi partikelnya.

Faktor lain yang mendapat banyak perhatian adalah emisi yang disebut gas rumah kaca. Mereka mendapat nama itu karena berfungsi seperti panel di rumah kaca — mereka membiarkan cahaya masuk, tapi memantulkan kembali radiasi infra merah ke permukaan.

Metafora

Salah satu cara memikirkan pemanasan global adalah dengan membayangkan mobil Anda terparkir di tempat parkir pada hari yang cerah. Misalkan Anda sudah mengetahui seberapa jauh untuk menurunkan jendela agar mobil Anda tidak terlalu panas. Jendela Anda membiarkan cahaya masuk dan tidak membiarkan banyak infra merah keluar, sehingga bagian dalamnya menjadi hangat, tetapi Anda telah menyeimbangkannya sehingga cukup banyak panas yang keluar dari jendela Anda agar mobil tetap nyaman. Tetapi jika Anda menyemprot jendela Anda dengan lapisan yang masih membiarkan cahaya tampak masuk tetapi memantulkan lebih banyak panas inframerah kembali ke mobil Anda, keseimbangan akan hilang. Mobil Anda akan menyimpan lebih banyak energi dan memanas.

Hal yang sama terjadi dengan gas rumah kaca. Atmosfer alami menyimpan gas yang memantulkan sebagian panas infra merah kembali ke Bumi. Aktivitas manusia menambah tingkat gas rumah kaca, meningkatkan pantulan, mengubah keseimbangan dan membuat suhu rata-rata naik.

Mengapa Para Ilmuwan Yakin

Sebagian besar ilmuwan percaya aktivitas manusia mempengaruhi iklim global. Meskipun ada banyak faktor — sebagian manusia dan sebagian alam — para ilmuwan yakin aktivitas manusia meningkatkan suhu rata-rata Bumi. Mereka telah melihat segala macam bukti, mulai dari komposisi karang hingga kantong air yang terperangkap di dalam es Antartika. Bukti menunjukkan bahwa variasi iklim selalu menjadi bagian dari siklus alami Bumi. Tapi itu juga menunjukkan bahwa perubahan iklim tidak pernah — dalam 10.000 tahun terakhir — secepat perubahan hari ini. Salah satu perubahan tersebut adalah peningkatan karbon dioksida di atmosfer, gas rumah kaca yang kadarnya meningkat secara dramatis karena emisi bahan bakar fosil dan penggundulan hutan. Ukuran dan kecepatan perubahan mengarah pada kesimpulan bahwa manusia sedang memodifikasi iklim bumi.

Sebagai contoh, selama 1.000 tahun suhu rata-rata global berada dalam kisaran setengah derajat Celsius — 0,9 derajat Fahrenheit. Pada pertengahan 1800-an atau lebih suhu mulai naik, kemudian pada tahap akhir abad ke-20 naik lebih cepat lagi. Dalam 100 tahun terakhir suhu telah meningkat sekitar 1 derajat Celcius (1,8 derajat Fahrenheit). Sederhananya, suhu telah meningkat lebih banyak dalam 100 tahun terakhir daripada yang terjadi selama 900 tahun sebelumnya.

Gambar Stockbyte/Stockbyte/Getty

Related Posts