Ekonomi, Sosial, dan Budaya Kesultanan Mataram

Kehidupan Ekonomi

Mataram  berkembang menjadi kerajaan agraris. Dalam bidang  pertanian, Mataram  mengembangkan daerah-daerah persawahan yang  luas. Seperti  yang  dilaporkan  oleh  Dr. de Han, Jan Vos dan Pieter Franssen bahwa  Jawa bagian  tengah adalah  daerah  pertanian yang subur  dengan hasil utamanya adalah beras.

Pada abad ke-17, Jawa benar-benar menjadi lumbung  padi. Hasil-hasil yang lain adalah kayu, gula, kelapa, kapas, dan hasil palawija.

Di Mataram  dikenal beberapa kelompok  dalam masyarakat.  Ada golongan raja dan keturunannya, para bangsawan dan  rakyat sebagai  kawula  kerajaan.  Kehidupan masyarakat  bersifat  feodal  karena  raja adalah  pemilik tanah beserta  seluruh  isinya.

Sultan  dikenal  sebagai  panatagama, yaitu  pengatur  kehidupan  keagamaan.  Oleh  karena   itu, Sultan memiliki kedudukan yang sangat  tinggi. Rakyat sangat hormat  dan patuh,  serta hidup mengabdi pada sultan.

Bidang kebudayaan juga  maju  pesat.  Seni bangunan, ukir,  lukis, dan  patung mengalami   perkembangan. Kreasi- kreasi   para   seniman,   misalnya  terlihat   pada   pembuatan gapura-gapura, serta ukir-ukiran di istana dan tempat ibadah. Seni tari yang terkenal  adalah  Tari Bedoyo Ketawang.

Dalam prakteknya,  Sultan  Agung  memadukan unsur-unsur budaya Islam dengan budaya Hindu-Jawa. Sebagai contoh, di Mataram diselenggarakan   perayaan    sekaten    untuk    memperingati hari kelahiran  Nabi Muhammad saw,  dengan membunyikan gamelan  Kyai Nagawilaga dan Kyai Guntur Madu.

Kemudian juga  diadakan   upacara   grebeg.   Grebeg  diadakan   tiga  kali dalam  satu  tahun,   yaitu  setiap  tanggal   10  Dzulliijah (Idul Adha), 1 Syawal (Idul Fitri), dan tanggal 12 Rabiulawal (Maulid Nabi). Bentuk dan kegiatan  upacara  grebeg  adalah mengarak gunungan dari keraton  ke depan  masjid agung.  Gunungan biasanya   dibuat   dari  berbagai   makanan,  kue,   dan   hasil bumi  yang  dibentuk   menyerupai   gunung. Upacara  grebeg merupakan sedekah   sebagai  rasa  syukur  dari  raja  kepada Tuhan Yang Maha Esa dan juga sebagai pembuktian kesetiaan para bupati  dan punggawa kerajaan kepada  rajanya. Sultan  Agung  wafat   pada   1645.   Ia  dimakamkan  di Bukit Imogiri.  Ia digantikan   oleh  puteranya  yang  bergelar Amangkurat  I. Akan tetapi,  pribadi  raja ini sangat  berbeda dengan pribadi Sultan Agung.  Amangkurat  I adalah  seorang raja yang lemah, berpandangan sempit, dan sering bertindak kejam. Mataram mengalami kemunduran apalagi adanya pengaruh VOC yang semakin kuat. Dalam perkembangannya Kerajaan  Mataram  akhirnya dibagi dua berdasarkan Perjanjian Giyanti (1755). Sebelah  barat   menjadi  Kesultanan   Yogyakarta dan sebelah timur menjadi Kasunanan Surakarta.
Posisi ibukota Mataram di Kota Gede yang berada di pedalaman menyebabkan Mataram sangat tergantung kepada hasil pertanian. Dengan kehidupan masyarakat yang agraris membentuk tatanan masyarakat sistem feodal. Bangsawan, priyayi dan kerabat kerajaan yang memerintah suatu wilayah diberi tanah garapan yang luas, sedangkan rakyat bertugas untuk mengurus tanah tersebut. Sistem ini melahirkan tuan tanah yang menganggap menguasai wilayahnya.

Kehidupan kerajaan Mataram mengandalkan dari agraris, sedangkan daerah pesisir pantai di wilayah yang dikuasai tidak dimanfaatkan. Dengan mengandalkan dari pertanian, Mataram melakukan penaklukan ke beberapa kerajaan-kerajaan di Jawa Timur dan Jawa Barat. Dengan menarik upeti dari wilayahwilayah penghasil beras menyebabkan perekonomian berkembang dengan cepat.

Keadaan tersebut tidaklah menguntungkan bagi rakyat, karena mereka seakan-akan diperlakukan tidak benar oleh penguasa. Tidaklah mengherankan apabila banyak yang melarikan diri dari wilayah kekuasaan Mataram atau terjadinya pemberontakan.

Kehidupan Sosial Budaya

Antara tahun 1614 hingga 1622, Sultan Agung mendirikan keraton baru di Kartasura, sekitar 5 km dari Keraton Kotagede. Ia memperkuat militer, berhasil mengembangkan kesenian, serta pertukangan. Selain itu, ia pun membangun komplek pemakaman raja-raja Mataram di Bukit Imogiri. Kalender Jawa ia ganti dengan sistem kalender Hijriah. Pada tahun 1639, sultan ini mengirim utusannya ke Mekah. Setahun kemudian, 1640, utusan Mataram ini membawakan gelar baru bagi Sultan Agung dari syarif di Mekah. Gelar baru itu adalah Sultan Abdullah Muhammad Maulana Matarani.

Seperti halnya ibukota kerajaan Islam lainnya, ibukota Mataram memiliki ciri khas kota berarsitekturkan gaya Islam. Tata letak istana atau keraton senantiasa berdekatan dengan bangunan masjid. Letak keraton biasanya dikelilingi benteng dengan pospos pertahanan di berbagai penjuru angin. Di luar pagar benteng terdapat parit bautan yang berfungsi sebagai barikade pertahanan ketika menghadapi lawan. Parit buatan ini berfungsi juga sebagai kanal, tempat penampungan yang memasok air ke dalam kota.

Pada masa Paku Buwono II ini di istana Surakarta terdapat seorang pujangga bernama Yasadipura I (1729-1803). Yasadipura I dipandang sebagai sastrawan besar Jawa. Ia menulis empat buku klasik yang disadur dari bahasa Jawa Kuno (Kawi), yakni Serat Rama, Serat Bharatyudha, Serat Mintaraga, serta Arjuna Sastrabahu. Selain menyadur sastra-sastra Hindu-Jawa, Yasadipura I juga menyadur sastra Melayu, yakni Hikayat Amir Hamzah yang digubah menjadi Serat Menak. Ia pun menerjemahkan Dewa Ruci dan Serat Nitisastra Kakawin. Untuk kepentingan Kasultanan Surakarta, ia menerjemahkan Taj as-Salatin ke dalam bahasa Jawa menjadi Serat Tajusalatin serta Anbiya.

Selain buku keagamaan dan sastra, ia pun menulis naskah bersifat kesejarahan secara cermat, yaitu Serat Cabolek dan Babad Giyanti.

Sumber: Sejarah SMA/MA Kelas X Kemdikbud 2014

Related Posts