6 Langkah-Langkah Penelitian Sejarah

Mempelajari sejarah dapat membantu seseorang menghindari pengulangan kesalahan orang lain. Sebaliknya, studi sejarah dapat membantu seseorang dalam mengulangi pilihan baik yang telah dibuat orang lain. Memeriksa sejarah akan membantu seseorang dalam membuat keputusan yang lebih baik di masa depan.

Sejarawan telah merumuskan proses yang mereka gunakan untuk penelitian sejarah. Proses ini membantu mereka untuk meneliti lebih cepat dan dengan hasil yang lebih dapat diandalkan.

Langkah-langkah penelitian sejarah atau metode penelitian merupakan pedoman yang di gunakan untuk meneliti suatu peristiwa sejarah. Metode penelitian (metode sejarah) ini penting untuk mendapatkan hasil penelitian yang bermutu serta dapat di akui dan di percaya masyarakat.

Metode sejarah itu pada dasarnya di arahkan untuk menjawab secara tuntas dan menyeluruh pertanyaan 5W – 1H, yaitu:

  • what (apa), peristiwa apa yang terjadi?
  • when (kapan), terjadinya peristiwa tersebut?
  • where (dimana), terjadinya peristiwa tersebut?
  • who (siapa), yang terlibat dalam peristiwa sejarah tersebut?
  • why (mengapa), pertistiwa itu terjadi? Apa latar belakangnya
  • dan how (bagaimana),proses terjadinya peristiwa tersebut?

Pengertian

Penelitian sejarah atau historiografi, “berusaha untuk secara sistematis menangkap kembali nuansa kompleks, orang-orang, makna, peristiwa, dan bahkan gagasan masa lalu yang telah mempengaruhi dan membentuk masa kini”. (Berg & Lure, 2012, hlm.305)

Penelitian sejarah bergantung pada berbagai macam sumber, baik primer & sekunder termasuk materi yang tidak dipublikasikan.

Sumber primer:

  • Laporan saksi mata tentang peristiwa
  • Bisa berupa kesaksian lisan atau tertulis
  • Ditemukan dalam catatan publik & dokumen hukum, risalah rapat, catatan perusahaan, rekaman, surat, buku harian, jurnal, gambar.
  • Terletak di arsip universitas, perpustakaan, atau koleksi yang dikelola secara pribadi seperti masyarakat sejarah lokal.

Sumber Sekunder:

  • Bisa lisan atau tulisan
  • Catatan peristiwa bekas
  • Ditemukan dalam buku teks, ensiklopedi, artikel jurnal, surat kabar, biografi dan media lain seperti film atau rekaman kaset.

Tahapan

Untuk memahami bagaimana seorang peneliti melakukan penelitian dalam mengungkap kebenaran di masa lalu, mari kita ikuti langkah-langkah sejarah berikut ini.

1. Pemilihan topik

Sebelum melakukan penelitian, peneliti harus terlebih dahulu menentukan topik yang akan di teliti. Pemilihan topik hendaknya memenuhi hal-hal sebagai berikut:

  • Unik, artinya topik yang di pilih mengandung rasa ingintahu dan ketertarikan pembaca
  • Bernilai, artinya permasalahan yang di teliti memiliki arti penting bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan bermanfaat bagi masyarakat.
  • Kesatuan, artinya unsur yang di jadikan bahan penelitian mempunyai satu kesatuan ide.
  • Orisinal, artinya topik yang di pilih merupakan sebuah pembuktian baru atas peristiwa di masa lalu.
  • Praktis, artinya data yang di butuhkan sesuai dengan kemapuan yang dimiliki peneliti.

Selain itu, dalam proses pemilihan topik peneliti harus memperhatikan kedekatan emosional dan kedekatan intelektual terhadap topik yang dipilih. Kedekatan emosional berarti peneliti suka terhadap topik yang di pilihnya. Sedangkan kedekatan intelektual berarti peneliti menguasai topik yang dipilihnya.

2. Heuristik

Berpikir logis, sejarawan yang baik tidak begitu saja menerima kesimpulan sejarawan lain. Sebaliknya, dia memeriksa referensi mereka. Dua jenis sumber dapat ditemukan. Sumber primer adalah item orisinal, sedangkan sumber sekunder adalah kesimpulan yang dibuat orang lain setelah (semoga) sumber primer dipelajari. Misalnya, sejarawan yang meneliti Pilgrim akan menggunakan sumber primer seperti surat yang mereka tulis, lagu yang mereka nyanyikan, jurnal yang mereka rekam, dan buku yang mereka tulis. Jika sejarawan menulis buku tentang apa yang dia pelajari dari sumber primer, bukunya akan menjadi sumber sekunder.

Setelah memilih topik, proses berikutnya adalah mengumpulkan data terkait topik yang di pilih. Istilah lazim dalam proses ini adalah heuristik. Heuristik meliputi tiga hal pokok berikut ini:

  • Corroboration, membandingkan data yang ada untuk menentukan apakah data terebut memberikan informasi yang sama. Langkah ini juga sering digunakan untuk memverifikasi keaslian data.
  • Sourcing, mengidentifikasi penulis, tanggal, serta tempat di buatnya data.
  • Contextualization, yaitu mengidentifikasi waktu dan tempat peristiwa.
    Berdasarkan sumbernya data dapat di bagu dua, yaitu:
  • Data primer, yaitu berupa wawancara lansung kepada pelaku atau saksi sejarah, dokumen asli, laporan/catatan, foto, benda peninggalan, dan artefak
  • Data sekunder, yaitu informasi yang di peroleh dari buku, teks, koran, ensiklopedia, dan referensi-referensi lain.

3. Verifikasi

Setelah data terkumpul, proses berikutnya adalah menguji keaslian dan keabsahan data atau verifikasi (kritik sejarah). Verifikasi ada dua macam, yaitu:

Kritik eksternal

kritik eksternal adalah kritik atau verifikasi terhadap keabsahan dan keaslian sumber data. Kritik eksternal dalam hal keabsahan data antara lain menyangkut pertanyan-pertanyaan berikut ini.

  • Apakah gaya bahasa dan penulisan sesuai dengan periode waktu dari topik yang sedang diteliti, dan apakah gaya yang sama terlihat pada tulisan-tulisan lain dari penulis yang sama?
  • Apakah ada bukti bahwa penulis memperlihatkan ketidak tahuan terhadap hal atau peristiwa yang seharusnya sudah di ketahuinya?an data terkait dengan pertanyaan-pertanyaan berikut ini.
  • Apakah data awal telah di ubah, bauk secara sengaja, ataupun tidak sengaja dalam menyalinnya?
  • Apakah dukumen itu asli atau salinan?
  • Bila tanggal dan penulis tidak diketahui apakah ada petunjuk internal yang menunjukan asal mulanya?

supersemar

Kritik internal

Kritik internal adalah kritik atau verifikasi terhadap kredibilitas atau keterpercayaan data. Dalam hal ini peneliti harus bersikap objektif dan netral dalam menggunakan data yang telah di peroleh, sehingga peristiwa sejarah itu terjamin kebenarannya. Kritik internal umumnya terkait dengan keabsahan dan makna data. Kritik internal menggunakan pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut.

  • Apa yang dimaksud penulis dengan setiap kata atau pertanyaan dalam data?
  • Seberapa jauh penulis dapat di percaya?
  • Apakah sebetulnya yang ingin di katakan penulis?
  • Bagaimana menafsirkan kata-kata yang digunakan penulis?

4. Interpretasi

Setelah di verifikasi, data lalu di interpretasi. Disini peneliti melihat keterkaitan informasi yang di kumpulkan, disebut juga interpretasi sintesis, melihat hubungan sebab akibat disebut interpretasi analisis, dan membuat kontruksinya sendiri atas peristiwa itu. Lalu kontruksi di uji dan dianalsis lagi sampai akhirnya siap di sampaikan secara tertulis. Jadi, pada tahap akhir interpretasi penelitisudah mempunyai kontruksi atau sudut pandang tentang topik yang diteliti.

Interpretasi pada dasarnya merupakan langkah yang dilakukan dalam menjawab permasalahan dari topik yang diteliti. Fakta yang dihasilkan melalui kritik harus dihubungkan antara yang satu dengan yang lainnya, terutama dalam konteks hubungan sebab akibat atau adanya hubungan yang sangat berarti/signifikan.

5. Historiografi

Hitoriografi berasal dari kata historia artinya sejarah dan graphia artinya penulisan. Jadi dalam tahap historiografi fakta-fakta yang telah di kumpulkan, dikritik, dan di interpretasikan kemudian di sajikan dalam bentuk tulisan yang logis, sistematis dan bermakna.

Historiografi yang baik biasanya menyajikan latar belakang, kronilogi peristiwa, analisis sebab akibat, dan uraian mendalam mengenai hasil penelitian, dampak, serta kesimpulan. Dengan demikian, hasilnya dapt memberikan pemahaman baru yang bermakna kepada pembaca tentang topik tersebut.

Histiriografi di bedakan menjadi dua hal, yakni historiografi naratif, dan historiografi strukturalis. Historiografi naratif adalah penulisan sejarah yang berisi tentang rekaman peristiwa atau tindakan pelaku secara pribadi yang berlangsung dalam waktu tertentu, sedangkan historiografi strukturalis adalah penulisan sejarah yang berisi tentang perubahan yang terjadi di masyarakat. Historiografi strukturalis sering juga disebut sejarah sosial.

Bentuk-bentuk historiografi antara lain dapat berupa:

  • Narasi yang isinya lebih banyak bercerita sesuai dengan apa yang diinformasikan oleh sumber sejarah.
  • Deskriptif yang isinya lebih detail dan kompleks dibandingkan dengan narasi.
  • Dan Analistis, yang isinya lebih banyak berorientasi pada penelaahan masalah.

Sehingga tidak sekedar bercerita tetapi banyak menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mendalam dengan tinjauan berbagai aspek. Penulisan yang baik adalah gabungan antar unsur naratif, deskriptif dan analitis. Bentuk gabungan ini akan menampilkan unsur cerita, detail sumber dan analisa terhadap peristiwa sejarah.

Bentuk-bentuk penelitian Dilihat dari teknik pengumpulan data, penelitian sejarah dibagi dalam dua bentuk, yaitu penelitian Lapangan dan penelitian kepustakaan.

  • Penelitian Lapangan. Dalam melakukan penelitian lapangan seorang sejarawan datang ketempat terjadinya peristiwa sejarah atau tempat ditemukannya peninggalan-peninggalan sejarah (situs). Bila peninggalan tersebut telah disimpan di museum, maka penelitian dilakukan di museum. Dan apabila benda-benda peninggalan itu masih terpendam didalam tanah, maka sejarawan harus melakukan penggalian atau ekskavasi. Jika seorang sejarawan memerlukan keterangan langsung dari pelaku atau saksi sejarah yang masih hidup sebagai sumber lisan maka bisa dilakukan melalui metode wawancara (interview)
  • Penelitian kepustakaan. Penelitian kepustakaan disebut juga dengan penelitian dokumenter. Dalam melakukan penelitian dokumenter, seorang peneliti memfokuskan perhatiannya untuk memperoleh data-data tertulis yang disimpan di museum atau perpustakaan. Untuk mendapatkan data dan informasi yang benar dan akurat, peneliti dapat melakukan studi komparatif, yaitu membandingkan sumber yang satu dengan sumber yang lainnya yang berkenaan dengan suatu hal.

6. Berbagi penemuan

Seorang sejarawan memperoleh wawasan dari orang lain dengan menunjukkan kepada mereka apa yang telah dia pelajari dan menanyakan apakah mereka setuju dengan kesimpulannya. Hal ini membuat dia tidak mengabaikan beberapa fakta yang jelas atau penting. Misalnya, seorang sejarawan yang telah meneliti Theodore Roosevelt mungkin menemukan, setelah berbagi hasilnya dengan sejarawan lain, bahwa Theodore Roosevelt menikmati mendaki gunung.

Berbekal proses enam langkah ini, sejarawan dan bahkan orang biasa seperti Anda dan saya dapat menemukan fakta sejarah yang berguna yang akan membantu kita dalam membuat keputusan yang lebih baik untuk kemuliaan Allah.

Related Posts

This Post Has 6 Comments

  1. benar-benar sangat membantu dan lenkap banget infonya gan

    kesusahan memahami pelajaran SMA? <a href='luminoushistorica.blogspot.com'>Luminous Historica</a> kumpulan pelajaran SMA untuk kamu dan dari kamu (bisa request loh).

Comments are closed.